Kemenkeu: APBN disiapkan untuk antisipasi kenaikan nilai tukar pangan
Harga beras ini sudah menjadi hambatan yang mana besar dalam seluruh dunia secara global. Ini antisipasi yang tersebut digunakan harus kita lakukan kemudian memerankan APBN sebagai shock absorber,…..

Jakarta – Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu mengatakan anggaran pendapatan juga belanja negara (APBN) sudah disiapkan untuk mengantisipasi kenaikan nilai tukar pangan.

Sebagai contoh, beras menjadi komoditas yang digunakan digunakan mengalami kenaikan tarif belakangan. Menurut Febrio, kenaikan tarif beras tidaklah semata-mata menjadi isu Indonesia, tetapi juga pada level global.

“Harga beras ini sudah menjadi kesulitan yang digunakan yang disebut besar pada seluruh dunia secara global. Ini antisipasi yang dimaksud harus kita lakukan kemudian memerankan APBN sebagai shock absorber, bagaimana kita melakukan konfirmasi pada titik krusial tertentu APBN siap melakukan perannya,” kata Febrio saat kegiatan BNI Investor Daily Summit 2023 dalam area Jakarta, Selasa.

Tingkat inflasi tahunan pada September 2023 tercatat berada pada level 2,28 persen, turun bila dibandingkan tingkat inflasi tahunan pada bulan sebelumnya yang tersebut dimaksud berada pada level 3,27 persen.

Meski inflasi tahunan menurun, komponen biaya bergejolak (volatile food) mengalami inflasi ke level 3,62 persen yoy pada September 2023. Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut salah satu kontributor inflasi tarif bergejolak adalah komoditas beras.

“Ada beberapa belanja yang tersebut itu perlu kita genjot, terutama pada sisi ketahanan pangan juga stabilitas harga. Inflasi memang turun, tapi inflasi volatile food itu meningkat. Harga bawang dan juga juga cabai deflasi, tapi tarif beras inflasi. Jadi, memang ada harga-harga spesifik yang mana yang harus di-handle pemerintah,” jelas Febrio.

Tak semata-mata dari sisi ketahanan pangan, Febrio memverifikasi APBN telah terjadi lama didesain untuk siap menghadapi guncangan global.

Kementerian Keuangan telah lama terjadi melihat berbagai risiko global yang digunakan mungkin memicu ketidakpastian ke depan, seperti perang Rusia-Ukraina, konflik Timur Tengah, hubungan dagang Amerika Serikat lalu China, serta gejolak dunia bisnis pada Amerika Serikat yang dapat memengaruhi ketidakstabilan sektor eksternal sektor perekonomian Indonesia.

Oleh akibat itu, pemerintah merancang APBN untuk tetap tangguh di area tempat tengah ketidakpastian perekonomian global, salah satunya dengan mendongkrak daya beli masyarakat.

Pemerintah juga fokus menjaga defisit APBN untuk berada dalam bawah 2,3 persen pada akhir tahun ini sehingga pertumbuhan dunia usaha secara keseluruhan dapat bertahan di dalam dalam atas level 5 persen.