Pemkab Manggarai Barat latih warga tata kelola perniagaan destinasi wisata
untuk melatih warga kemudian kelompok sadar wisata untuk bersama pemerintah desa mengelola berbagai potensi daya tarik di dalam area desa serta memasarkan-nya

Kupang – Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memberikan Pelatihan Tata Kelola Bisnis serta Pemasaran Destinasi Wisata kepada 40 warga dari 16 desa di area area daerah pariwisata super prioritas tersebut.

"Kegiatan ini bertujuan untuk melatih penduduk juga kelompok sadar wisata untuk bersama pemerintah desa mengelola berbagai kesempatan daya tarik di dalam area desa kemudian memasarkan-nya," kata Kepala Dinas Pariwisata Ekonomi Kreatif serta Kebudayaan Kabupaten Manggarai Barat, Pius Baut pada Labuan Bajo, Manggarai Barat, Selasa.

Pelatihan untuk meningkatkan kualitas tata kelola destinasi wisata pada Manggarai Barat itu berlangsung selama tiga hari, terhitung tanggal 24 Oktober sampai 26 Oktober 2023.

Pius mengatakan Labuan Bajo merupakan salah satu kabupaten di dalam dalam Indonesia yang digunakan digunakan ditetapkan sebagai destinasi pariwisata super prioritas.

Dengan predikat itu, sumber daya manusia Labuan Bajo harus mempunyai kemampuan yang tersebut dimaksud mumpuni agar dapat memperkenalkan keindahan di area tempat masing-masing destinasi sehingga menarik minat wisatawan berkunjung ke daerah itu.

Mantan Camat Lembor ini menjelaskan pelatihan yang dimaksud mana diberikan bertujuan meningkatkan kapasitas dari aparat desa juga kelompok sadar wisata yang tersebut mana ada di dalam area tiap-tiap desa untuk mempunyai kemampuan mengelola kesempatan kemudian mengembangkan atraksi wisata masing-masing.

Para peserta juga diberikan materi penting tentang digitalisasi sehingga dia dapat mengiklankan daya tarik wisata juga barang perekonomian kreatif yang dimaksud dimaksud ada di area area kawasan masing-masing dengan lebih tinggi tinggi baik melalui sosial media.

Ia berharap lewat materi dari narasumber yang mana mana merupakan praktisi kepariwisataan, para peserta dapat mengimplementasikan ilmu yang mana digunakan diperoleh pada area desa masing-masing.

Dengan demikian, ia ingin ada peningkatan kualitas pelayanan dalam desa-desa wisata maupun destinasi wisata sehingga banyaknya kunjungan yang mana secara langsung juga memberi manfaat kepada warga sekitar.

Lebih lanjut luaran yang dimaksud diharapkan dari pelatihan itu, ucap Pius adalah pengelolaan destinasi yang mana hal tersebut terstruktur, inovatif kemudian berkelanjutan.

"Pelatihan selama dua hari pada tempat dalam ruangan, lalu hari ketiga kunjungan ke Desa Wae Lolos," kata Pius.